Periode Kepengurusan IGI Nias 2021-2016 Berakhir, Status Quo Bias

Penulis: Mantan Sekretaris IGI Nias

Organisasi adalah sebuah organisme hidup. Ia butuh asupan semangat, ruang gerak, dan yang paling krusial yaitu regenerasi. Ketika sebuah roda organisasi berhenti berputar karena kehabisan energi dari para penggeraknya, maka lonceng kematian organisasi tersebut sedang berbunyi.
Kondisi inilah yang hari ini membayangi Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Nias.

Realitas Pahit: Beban Berat di Pundak yang Sedikit
Saat ini, IGI Nias sedang berada di persimpangan jalan krusial, terutama dalam hal pembentukan pengurus baru. Namun, sebuah kenyataan pahit harus dihadapi. Di tengah ratusan atau bahkan ribuan guru di Nias yang membutuhkan wadah peningkatan kompetensi, hanya ada 1 hingga 3 orang saja yang masih peduli dan berdarah-darah memperjuangkan keberlangsungan organisasi ini.
Fenomena pengurus ghaib atau free riders dan apatisme massal menjadi awan mendung. Banyak yang namanya tercantum indah di dalam Surat Keputusan (SK) kepengurusan lama, namun mendadak senyap saat organisasi memanggil untuk melakukan estafet kepemimpinan. Organisasi seolah dianggap seperti habis manis sepah dibuang - dicari saat butuh legitimasi atau portofolio, lalu ditinggalkan telantar saat masa transisi tiba.
Saya masih ingat waktu mahasiswa 14 tahun lalu, ketika masih aktif berdiskusi dalam circle discussion para civitas, peristiwa yang dialami pengurus IGI Nias saat ini disebut sebagai Sindrom Demisioner Pasif. Sangat miris dan memprihatinkan!

Ilustrasi

Mengapa Regenerasi IGI Nias Tidak Boleh Gagal?
Apatisme adalah musuh nyata bagi kemajuan mutu pendidikan di Nias. Jika 1-3 orang yang peduli hari ini akhirnya memilih ikut menyerah, maka IGI Nias akan resmi masuk ke fase mati suri.
Mengapa kita harus peduli? 
  • Wadah Perjuangan Guru. IGI adalah rumah untuk tumbuh bersama, tempat guru melatih guru, dan ujung tombak peningkatan kompetensi literasi serta digitalisasi guru di Nias.
  • Dosa Sejarah. Membiarkan organisasi ini bubar karena sikap acuh tak acuh adalah langkah mundur bagi masa depan anak-anak didik di Kepulauan Nias.
  • Tanggung Jawab Moral. Menjadi pengurus bukan sekadar numpang nama di CV, melainkan sebuah janji moral untuk mengabdi pada dunia pendidikan.

Panggilan untuk Bergerak
Artikel ini bukan sekadar catatan keluhan, melainkan sebuah alarm pengingat dan undangan terbuka. Kepada seluruh jajaran pengurus lama IGI Nias, para anggota, dan seluruh guru hebat di Kabupaten Nias, mari kesampingkan ego dan rasa lelah.
Tiga orang rekan kita telah menyalakan lilin di tengah kegelapan. Tugas kita sekarang adalah datang membawa kayu bakar, bukan air untuk memadamkannya. Mari hadir, bersuara, dan ambil bagian dalam pembentukan pengurus baru IGI Nias.
Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa IGI Nias runtuh bukan karena kurangnya tantangan, melainkan karena matinya kepedulian dari dalam tubuhnya sendiri.

IGI Nias, Bersama Bergerak, Bergerak Bersama!
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال