Rambu-Rambu Revitalisasi di Pedalaman

Penulis : Melgibson Pasaribu

Ya’ahowu

Jarak dari ibu kota kabupaten menuju sekolah kami bukan sekadar hitungan kilometer di atas kertas peta, melainkan rentetan jam yang diuji oleh jalan tanah merah, tanjakan terjal. Jika musim kemarau tiba, debu tebal membungkus pakaian hingga warnanya berubah menjadi kemerahan. Namun jika hujan turun, perjalanan dengan sepeda motor tua bisa memakan waktu hingga badan sakit sudah menjadi hall umrah.

Di sinilah berdiri Sekolah kami SMP Negeri 4 Gido. Sebuah sekolah yang selama belasan tahun bertahan hidup dari belas kasihan dan kegigihan warga lokal. Sebelum bantuan revitalisasi itu akhirnya mengetuk pintu kami, bangunan kelas tempat anak-anak menimba ilmu adalah wujud nyata dari gotong royong yang serba terbatas. Dinding-dindingnya terbuat dari papan kayu sembarangan, sebagian sudah lapuk dimakan rayap dan berlubang di sana-sini. Atapnya menggunakan seng bekas sumbangan para orang tua murid. Ketika matahari terik tepat di atas kepala, ruang kelas berubah menjadi oven raksasa yang menyengat.

Namun, musuh terbesar kami bukanlah panas, melainkan hujan. Setiap kali awan hitam bergulung di atas perbukitan pedalaman, dada saya selalu berdebar kencang. Sebagai bendahara sekolah sekaligus bendahara panitia revitalisasi, saya paham betul penderitaan para guru dan murid di kelas-kelas tua itu. Begitu gemuruh hujan menerpa atap seng, suara guru yang sedang mengajar mendadak lenyap ditelan bising. Tak berapa lama, air mulai menetes dari atap yang bocor, lalu mengalir deras melalui selah-selah dinding papan.

Anak-anak kecil itu akan berhamburan memeluk buku-buku mereka yang setengah basah, mengungsi ke area yang lebih kering, menatap ruang kelas mereka yang tergenang banjir lokal. Air merembes masuk membawa lumpur, menggenangi lantai semen kasar yang pecah-pecah. Di kelas yang tidak kebanjiran pun, suasana tak kalah menyiksa; jika lantai semen yang mengelupas itu kering dan diinjak puluhan kaki kecil yang berlarian, debu halus berwarna abu-abu akan membubung ke udara, membuat anak-anak batuk dan mata mereka memerah sepanjang pelajaran.

Kondisi inilah yang membuat kami menangis haru ketika kabar itu datang: sekolah kami akhirnya mendapatkan alokasi dana bantuan revitalisasi gedung sekolah dari pemerintah. Ada berkas yang harus ditandatangani, ada panitia yang harus dibentuk, dan ada harapan besar yang mendadak membumbung tinggi di atas tanah berlumpur ini.

Sesuai dengan petunjuk teknis, Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) atau Panitia Revitalisasi harus melibatkan unsur sekolah dan masyarakat setempat. Maka terbentuklah struktur panitia kami: Kepala Sekolah kami yang berintegritas tinggi, menjabat sebagai ketua; saya sendiri sebagai bendahara; serta beberapa tokoh masyarakat setempat sebagai anggota panitia.

Masyarakat lokal yang masuk dalam kepanitiaan adalah orang-orang yang sangat baik, jujur, dan memiliki semangat gotong royong yang luar biasa. Namun, hampir seluruh anggota panitia dari unsur masyarakat tersebut tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Mereka bahkan tidak bisa membaca tulisan di lembar Rencana Anggaran Biaya (RAB) apalagi memahami kuitansi bernomor seri. Bagi mereka, pembangunan adalah soal mengangkat semen, memotong kayu, dan mengaduk pasir.

Akibatnya, seluruh beban administrasi, perencanaan teknis, manajemen keuangan, hingga pelaporan pertanggungjawaban bertumpu sepenuhnya pada dua pasang Pundak yaitu kepala sekolah dan saya.

Setiap malam, di bawah remang lampu tenaga surya yang sering kedip-kedip, meja kerja saya dipenuhi oleh tumpukan kertas kuitansi, nota pembelian nail/paku, kalkulator, dan draf RAB yang tebal. Saya harus memutar otak bagaimana mengatur arus kas agar uang bantuan yang ditransfer secara bertahap itu cukup untuk membeli material berstandar tinggi di kota, sekaligus membayar biaya angkut yang harganya bisa melipat ganda karena medan jalan yang ekstrem.

Beban kerja kami kian terasa berat karena pendamping teknis yang seharusnya mengawal proyek ini seolah hadir hanya sebagai nama di lembar pengesahan. Tenaga Perencana yang ditunjuk dari dinas sangat jarang muncul di lapangan setelah gambar desain awal diserahkan. Saat proses pengerjaan berjalan dan timbul kendala teknis akibat kondisi tanah pedalaman yang labil, kami sering kali harus mencari solusi sendiri karena sang perencana sulit dihubungi.

Sementara itu, Pengawas Proyek yang sesekali datang dari kota tampak bekerja dengan dingin. Ia datang hanya untuk memeriksa daftar centang formalitas, tanpa mau ambil pusing atau memberi arahan yang solutif atas kesulitan distribusi material yang kami hadapi. Ia tidak terlalu memberi hati pada perjuangan kami di ceruk pedalaman ini. Bagi sang pengawas, yang penting adalah angka ketercapaian fisik di atas kertas sesuai tenggat waktu, tak peduli betapa berdarah-darahnya kami mendatangkan pasir dan besi melewati jalur sungai.

Di tengah himpitan beban kerja administrasi dan tanggung jawab moral yang begitu besar, luka lain justru muncul dari tempat yang tidak disangka-sangka dari ruang guru kami sendiri.

Pembangunan gedung baru tentu menjadi pusat perhatian seluruh warga sekolah. Uang ratusan juta rupiah yang mengalir masuk ke rekening panitia rupanya memicu imajinasi dan asumsi yang keliru dari sebagian rekan sejawat. Mereka melihat angka nominal yang besar di dalam papan informasi proyek, namun tidak pernah melihat bagaimana rumitnya mengelola setiap rupiahnya.

Saat itu sabtu siang, saat saya sedang beristirahat di sudut ruang guru setelah menuntaskan rekapitulasi nota pembelian besi beton dan gaji tukang, sayup-sayup saya mendengar perbincangan dari balik sekat lemari buku.

"Enak ya jadi panitia revitalisasi. Dana yang turun ratusan juta begitu, pasti ada lah bagian yang masuk ke kantong pribadi. Pantas saja Pak Kepsek sama Pak Bendahara sibuk terus," bisik salah seorang guru.

"Iya, setidaknya ada uang lelah yang cair tiap minggu. Kita yang mengajar di kelas tua cuma dapat debunya saja," timpal suara guru lainnya diiringi tawa kecil.

Tangan saya yang memegang pulpen seketika terhenti. Dada saya terasa sesak dan panas. Ingin rasanya saya berdiri, menghampiri mereka, dan melempar seluruh tumpukan kuitansi serta nota pembelian yang sudah saya rekap hingga larut malam tanpa dibayar sepeser pun insentif tambahan. Mereka tidak tahu bahwa dalam petunjuk teknis bantuan swakelola ini, tidak ada honorarium besar untuk panitia. Setiap rupiah dari anggaran diarahkan sepenuhnya untuk bahan bangunan dan upah pekerja lokal.

Mereka tidak tahu betapa seringnya saya mengelus dada ketika ada selisih uang Rp5.000 dalam pembukuan yang membuat saya harus membongkar ulang seluruh dompet dan tas pribadi demi memastikan kas proyek tetap presisi. Mereka tidak melihat bagaimana Pak Kepala Sekolah harus begadang menyusun progress bangunan. Belum lagi memikirkan tentang siapa lagi yang datang besok ke sekolah?

Meskipun terasa melelahkan, ada satu hal yang membuat proses revitalisasi ini memberikan dampak sosial yang sangat positif bagi warga sekitar. Atas petunjuk Pak Kasek, seluruh tukang dan pekerja kasar yang dilibatkan dalam proyek ini diutamakan berasal dari masyarakat lokal.

Bagi warga pedalaman yang mayoritas bertani dengan penghasilan tak tentu, proyek pembangunan sekolah ini menjadi angin segar. Mereka mendapatkan pekerjaan sementara dan penghasilan mingguan yang sangat membantu dapur mereka tetap ngebul. Rasa kepemilikan warga terhadap sekolah pun tumbuh pesat; mereka tidak sekadar bekerja mencari upah, tetapi sedang membangun masa depan anak cucu mereka sendiri.

Namun, mengelola tukang lokal yang tidak terbiasa dengan presisi teknis arsitektur modern membutuhkan kesabaran ekstra tinggi. Kejadian paling menegangkan dalam proses revitalisasi ini terjadi saat pembuatan struktur pondasi gedung kelas baru.

Pagi itu, Pak Kasek membawa meteran gulung dan lembaran draf gambar teknis untuk mengecek hasil pemasangan patok dan pengecoran pondasi awal yang dikerjakan oleh tukang. Sebut saja kepala tukang yang dihormati di kampung bersama anak buahnya. Saya menyusul dari belakang sambil membawa catatan belanja material.

Pak Kasek berlutut, menarik pita meteran dari ujung sudut satu ke sudut lainnya. Wajah Kepala Sekolah kami mendadak berubah serius. Ia mengukur ulang hingga tiga kali untuk memastikan penglihatannya.

"Pak Gulo, mari sebentar," panggil Pak Kasek dengan suara tenang namun tegas.

Pak Gulo berjalan mendekat sambil menyeka keringat di dahinya dengan kaus lusuh. "Ada apa, Pak Kepsek? Ada yang kurang?"

"Iya, Pak. Sisi pondasi bagian teras ini kurang 5 centimeter dari ukuran yang tertera di RAB dan gambar perencana. Sudut siku-sikunya juga bergeser sedikit," kata Pak Kasek menunjukkan pita meteran.

Pak Gulo tertawa terkekeh, menganggap hal itu masalah sepele. "Aduh, Pak Kepsek, cuma lima centimeter! Ini kan di pedalaman, Pak, tanahnya memang agak miring sedikit. Lima senti tidak akan bikin gedung ini roboh. Nanti bisa ditutup sama plesteran semen kok. Beres itu!" Kami juga sering gitu

Namun, Pak Kasek tidak ikut tertawa. Sedikit bicara bergetar dan menatap lurus ke arah Pak Gulo. Tidak bisa, Pak. Lima centimeter di pondasi hari ini berarti ketidakpresisian atap di kemudian hari. Ini gedung sekolah yang akan dipakai oleh ratusan anak-anak kita selama puluhan tahun. Kita dibayar dengan uang negara, uang rakyat, dan ada petunjuk teknis RAB yang harus kita ikuti secara mutlak. Pondasi ini harus dibongkar dan diukur ulang dari nol.

Suasana mendadak menjadi sangat dingin dan tegang. Para pekerja lain menghentikan cangkul dan sekop mereka. Pak Gulo tampak sangat tersinggung. Muka merah padam kelihatan jelas di wajahnya. Bagi seorang kepala tukang berpengalaman, menyuruh membongkar hasil kerjanya karena kesalahan 5 centimeter adalah pukulan telak bagi harga dirinya.

Saat pak kepsek pergi ke kantor kepala sekolah, dua orang rekan guru yang kepo mendatangi tukang lalu bertanya “Apa yang terjadi bg?” Keras kali pak Kepsek ini pak, kalau mabuk saja saya tadi sudah saya tikam pak kepsek ini “Ucap Pak Gulo.

Saya yang berdiri di dekat bangunan sempat merasa cemas jika situasi ini berakhir dengan aksi mogok para tukang. Saya mencoba melunakkan suasana. "Pak Gulo, tenang dulu. Maksud Pak Kepsek itu baik" Jangan terbawa emosi pak, kata saya sambil senyum. Memang pak kapsek kami itu selalu konsisten dengan aturan dan tidak mau neko-neko dengan anggaran. Penganggaran Dana BOSP pun pak kasek selalu memerintahkan saya membeli semua barang yang dianggarkan tanpa ada yang kurang, jadi sabar ya pak, ucap saya.

Keheningan melilit area proyek selama beberapa menit. Konsistensi dan keteguhan sikap Pak Kasek yang berani bertanggung jawab akhirnya meruntuhkan ego Pak Gulo. Kepala tukang itu menghela napas panjang, menunduk menatap tanah, lalu perlahan mengangguk.

Beberapa menit kemudian pak Kasek datang lagi ke area bangunan sambil berkata “Pak Gulo, Tidak apa-apa, masalah upah untuk pembongkaran dan penataan ulang ini akan menjadi tanggung jawab saya pribadi jika tidak bisa diklaim ke anggaran. Tapi soal kualitas dan rambu-rambu RAB, saya tidak akan pernah berkompromi satu centimeter pun. Kita sedang membangun tempat perlindungan anak-anak kita, bukan sekadar menumpuk batu."

"Baik, Pak Kepsek. Kalau itu demi kebaikan dan keselamatan anak-anak sekolah kita. kami bongkar dan ratakan lagi sesuai ukuran tepatnya," ucap Pak Gulo pelan.

Hari itu, pondasi dibongkar dan dibangun kembali dengan presisi yang sempurna. Peristiwa 5 centimeter itu menjadi peristiwa bersejarah di lingkungan sekolah kami. Sejak saat itu, Pak Gulo dan para pekerja lokal mengerjakan setiap sudut bangunan dengan tingkat kerapian dan kehati-hatian yang luar biasa. Mereka menyadari bahwa Kepala Sekolah kami tidak main-main dalam menjaga rambu-rambu kualitas.

Bulan-bulan penuh peluh, prasangka, dan ketegangan administrasi itu akhirnya berbuah manis. Ruang kelas baru hasil bantuan revitalisasi berdiri dengan megahnya di tengah lingkungan sekolah kami. Dindingnya kokoh terbuat dari bata yang diplester halus dan dicat warna putih cerah ala dulux. Atapnya menggunakan rangka baja ringan dengan seng baru yang rapi. Dan yang paling membanggakan lantainya dilapisi keramik putih yang bersih dan mengkilap, atribut kelas nya juga dilengkapi dengan lemari dan whiteboard yang super.

Hari penyerahan dan penggunaan pertama gedung kelas baru itu menjadi hari paling emosional dalam hidup saya sebagai bendahara panitia.

Saya berdiri di sudut pintu bersama Pak Kasek, menyaksikan pemandangan yang membuat dada ini bergetar hambat.

Saat itu penutupan MPLS dan pembagian kelas. Murid 9-a yang selama ini luluh lantah selama pembangunan gedung baru tentu sangat berharap dengan kelas baru. Kelas untuk 9-a ditempatkan di bangunan baru, “ucap PKS Kesiswaan”. Anak-anak itu berteriak kegirangan. Beberapa di antara mereka menempelkan telapak tangannya ke dinding yang halus, lalu berlutut meraba lantai keramik yang dingin dan licin.

Saya tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Saya hanya bisa mengangguk sambil tersenyum, seluruh rasa lelah akibat lembur malam, pusingnya menyusun SPJ, hingga rasa sakit hati atas gunjingan rekan-rekan guru seketika sirnah tanpa bekas. Senyum dan rasa syukur anak-anak pedalaman ini membayar lunas semua pengorbanan yang telah kami lakukan.

Namun, di balik kebahagiaan menyambut gedung baru ini, perjalanan kami belum sepenuhnya selesai.

Jika kita melangkah tiga puluh meter ke arah barat kompas sekolah, kenyataan pahit masih membayang. Di sana, masih berdiri tiga ruang kelas lama yang kondisinya rusak. Gedung itu adalah sisa dari era lama yang belum tersentuh bantuan revitalisasi tahap ini.

Setiap kali saya berjalan melewati tiga kelas tersebut saat jam pelajaran berlangsung, hati saya kembali teriris. Di dalam kelas-kelas itu, para guru masih harus berjuang mengajar di atas lantai semen kasar yang pecah-pecah. Begitu kaki anak-anak bergerak atau guru berjalan dari ujung papan tulis ke ujung lainnya, debu semen abu-abu menyembur tipis ke udara, beterbangan di antara berkas sinar matahari yang menerobos celah dinding papan. Anak-anak di kelas itu masih harus menutup hidung mereka dengan kerah baju saat menghapus papan tulis.

Kami bersyukur tak terhingga atas revitalisasi tiga kelas pertama ini. Namun, harapan besar kini membumbung tinggi di hati kami semua, Pak Kasek, saya, para guru, dan seluruh orang tua murid.

Kami sangat berharap, pemerintah dan dinas terkait berkenan melihat keikhlasan dan konsistensi kami dalam mengelola amanah anggaran ini. Semoga di tahun mendatang, sekolah kami kembali mendapatkan alokasi bantuan revitalisasi untuk membenahi tiga ruang kelas yang tersisa tersebut. Kami ingin melihat seluruh anak-anak di pedalaman ini menikmati hak yang sama: belajar di dalam ruangan yang kokoh, tanpa kebanjiran saat hujan turun, dan tanpa harus menghirup debu semen yang mengancam kesehatan mereka.

Revitalisasi ini telah mengajari kami tentang banyak hal tentang keteguhan prinsip, tentang kepedulian pada sesama, dan tentang rambu-rambu integritas yang tak boleh dilanggar dalam kondisi seberat apa pun. Kami siap menjaga amanah itu kembali, demi senyum anak-anak di ujung peta ini.
Ruangan Kelas Revitalisasi


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال